Sabtu, 02 April 2016

Renungan Minggu, 27 Maret 2016

Getsemani

Getsemani (bahasa Aramnya adalah gat semen = perasan minyak) adalah nama sebuah bukit tempat dimana Yesus berdoa dalam suatu pergumulan yang berat. Letaknya di timur Yerusalem, seberang lembah Kidron dekat Bukit Zaitun (Mat 26:30).
Getsemani adalah tempat yang disenangi Yesus dan murid-muridNya sebagai peristirahatan, dan kemudian menjadi panggung kesengsaraan, pengkhianatan Yudas, dan penangkapan Yesus (Mrk. 14:35-52).

Sikap Kristus di Getsemani (Luk. 22:41) memelopori kebiasaan orang Kristen untuk berlutut bila berdoa, mengingat orang Yahudi  biasanya berdoa dengan berdiri dan menengadahkan kedua tangannya ke atas.

Dibagian depan gereja terdapat pilar-pilar yang dibangun patung empat penulis Injil yang masing-masing memegang kitab. Pada pedimen terdapat ilustrasi yang indah menggambarkan Tuhan Yesus berdoa kepada Allah Bapa saat menjelang penderitaan yang akan dijalani-Nya demi menebus umat manusia dari dosa.

Disamping gereja ini terdapat sebuah taman yang disebut sebagai Taman Getsemani, tempat yang biasa digunakan Tuhan Yesus untuk berdoa dan terletak di kaki Bukit Zaitun. Dimasa kini, taman tersebut tetap terlihat seperti di masa abad ke-12 yang lalu, bahkan sekalipun kota Yerusalem mengalami peperangan, dihancurkan hingga dibangun kembali namum keadaan taman ini tetap seperti pada waktu Yesus melayani di dunia, mungkin dengan pohon-pohon zaitun yang sama pula. Di taman ini terdapat delapan pohon zaitun yang sangat tua dan tidak dapat dipastikan lagi umurnya. Beberapa ahli botani menyatakan bahwa usia dari pohon-pohon ini mungkin sekitar 3000 tahun. Dipercaya, bahwa pohon-pohon zaitun tersebut merupakan 'saksi bisu' saat Yesus merenung, berdoa kepada Bapa, hingga akhirnya ditangkap.

Getsemani memberi pelajaran berharga tentang kekuatan doa ketika berhadapan dengan rekayasa kejahatan yang didasari kebencian. Ketika benci menjadi jalan keluar dari kepribadian yang tidak matang dan kekanak-kanakkan. Ketika benci menjadi pilihan yang dianggap tepat. Jawaban untuk semua itu adalah berdoa dengan sungguh-sungguh seperti yang diperlihatkan Yesus.

Getsemani menjadi kekuatan bagi setiap kita bahwa saat pergumulan mendera, dan kita tidak memiliki kekuatan menghadapinya, berdoalah seperti yang diteladankan Yesus. Doa orang benar tidak pernah sia-sia, tetapi rencana jahat pasti dikalahkan

SELAMAT HARI PASKAH
GPIB "IMMANUEL" DEPOK
Pdt. Alexius Letlora

Tidak ada komentar:

Posting Komentar