Senin, 04 April 2016

ANTARA LETIH DAN LEGA (Minggu, 03 April 2016)

Suatu hari, seorang anak datang kepada ayahnya yang sedang bekerja "Oh Ayah, ayah" kata sang anak. Ada apa? tanya sang ayah. Sang Ayah kemudian duduk di samping anaknya dan berkata, ayo ceritakan nak, ayah akan mendengarkan.
"Aku lelah, sangat lelah... aku lelah karena aku belajar mati-matian untuk mendapat nilai bagus sedang temanku bisa dapat nilai bagus dengan menyontek... aku mau menyontek saja! Aku lelah, sangat lelah... aku lelah karena aku harus terus membantu ibu membersihkan rumah, sedang temanku punya pembantu, aku ingin kita punya pembantu saja!... Aku lelah, sangat lelah... aku lelah karena harus menabung, sedang temanku bisa terus jajan tanpa harus menabung... Aku ingin jajan terus!...
Aku lelah, karena aku harus menjaga sikapku untuk menghormati teman-temanku, sedang teman-temanku seenaknya saja bersikap kepadaku.
Aku lelah, sangat lelah karena aku harus menjaga lidahku untuk tidak menyakiti, sedang temanku enak saja berbicara sampai aku sakit hati... aku lelah ayah, menahan diri seperti ini... aku ingin seperti mereka... mereka terlihat senang, aku ingin menjadi seperti mereka ayah!...." Sang anak mulai menangis...
Kemudian sang ayah tersenyum dan mengelus kepala anaknya sambil berkata "anakku ayo ikut ayah, ayah akan menunjukkan sesuatu kepadamu", lalu sang ayah memegang tangan sang anak kemudian mereka menyusuri sebuah jalan yang sangat jelek dan berbatu, banyak duri, serangga, lumpur, dan ilalang. Lalu sang anak pun mulai mengeluh"ayah mau kemana kita? aku tidak suka jalan ini, lihat sepatuku jadi kotor, kakiku luka karena tertusuk duri. Badanku dikelilingi oleh serangga, berjalanpun susah karena ada banyak ilalang. aku  benci jalan ini ayah. Sang ayah hanya diam. Akhirnya mereka sampai pada sebuah telaga yang sangat indah, airnya segar, hawanya begitu sejuk, ada banyak kupu-kupu, bunga-bunga yang sangat cantik, dan pepohonan yang sangat rindang.
"Waaaah... tempat apa ini ayah? aku suka! aku suka tempat ini!". sang ayah hanya diam dan kemudian duduk di bawah pohon yang rindang beralaskan rerumputan hijau. "Kemarilah anakku, ayo duduk di samping ayah" ujar sang ayah, lalu sang anakpun ikut duduk di samping ayahnya.
"Anakku, tahukan kau mengapa disini begitu sepi? Padahal tempat ini begitu indah?"
"Tidak tahu ayah, memangnya kenapa?"
"Itu karena orang-orang tidak mau menyusuri jalan jelek tadi, padahal mereka tahu ada telaga disini, tetapi mereka tidak bisa bersabar dalam menyusuri jalan itu"
"Ooh... berarti kita orang yang sabar ya yah?"
"Nah, akhirnya kau mengerti"
"Mengerti apa? aku tidak mengerti"
Anakku, butuh kesabaran dalam belajar, butuh kesabaran dalam bersikap baik, butuh kesabaran dalam kejujuran, butuh kesabaran dalam setiap kebaikan agar kita mendapat kemenangan, seperti jalan yang tadi. Bukankah kau harus sabar saat ada duri melukai kakimu, kau harus sabar saat lumpur mengotori sepatumu, kau harus sabar melewati ilalang, dan kau pun harus sabar saat dikelilingi serangga? dan akhirnya semuanya terbayarkan. Ada telaga yang sangat indah. seandainya kau tidak sabar, apa yang kau dapatkan? kau tidak akan mendapat apa-apa anakku, oleh karena itu bersabarlah anakku.
"Tapi ayah, tidak mudah untuk bersabar"
Ayah tahu, oleh karena itu ada ayah yang menggenggam tanganmu agar kau tetap kuat. Begitu pula hidup, ada ayah dan ibu yang akan terus berada di sampingmu agar saat kau jatuh, kami bisa mengangkatmu. Tapi ingatlah anakku... ayah dan ibu tidak selamanya bisa mengangkatmu saat kau jatuh, suatu saat nanti, kau harus bisa berdiri sendiri, maka jangan pernah kau gantungkan hidupmu pada orang lain, jadilah dirimu sendiri. Seorang pemuda beragama yang kuat, yang tetap tabah dan sabar maka kau akan dapati dirimu tetap berjalan menyusuri kehidupan saat yang lain memutuskan untuk berhenti dan pulang, maka kau tahu akhirnya kan?" Ayah sangat menyayangimu anakku. Jika kelak kau menjadi seorang pemimpin rumah tangga dan seorang ayah, maka jadilah seperti air yang ada di telaga ini. Begitu indah dan bersih. Ia menjadi sumber kekuatan dan kehidupan bagi apapun yang ada di sekitarnya. Air inilah yang menjadikan bunga itu tampak begitu cantik dan begitu banyak pohon rindang di sini. Jadilah kau kelak seperti itu. "MENJADI SUMBER KEKUATAN BAGI KELUARGAMU"

Dulu ada seorang sahabat yang sangat paham tentang keletihan yang kita alami, ia bilang begini "Marilah kepada-ku semua yang letih lesu dan berbeban berat. Aku akan memberi kelegaan kepadamu" (Mat. 11:28). Maka kita akan tiba di kelegaan yang menyejukkan

SELAMAT HARI MINGGU PASKAH KE II

GPIB "IMMANUEL" DEPOK
Pdt. Alexius Letlora

Sabtu, 02 April 2016

Renungan Minggu, 27 Maret 2016

Getsemani

Getsemani (bahasa Aramnya adalah gat semen = perasan minyak) adalah nama sebuah bukit tempat dimana Yesus berdoa dalam suatu pergumulan yang berat. Letaknya di timur Yerusalem, seberang lembah Kidron dekat Bukit Zaitun (Mat 26:30).
Getsemani adalah tempat yang disenangi Yesus dan murid-muridNya sebagai peristirahatan, dan kemudian menjadi panggung kesengsaraan, pengkhianatan Yudas, dan penangkapan Yesus (Mrk. 14:35-52).

Sikap Kristus di Getsemani (Luk. 22:41) memelopori kebiasaan orang Kristen untuk berlutut bila berdoa, mengingat orang Yahudi  biasanya berdoa dengan berdiri dan menengadahkan kedua tangannya ke atas.

Dibagian depan gereja terdapat pilar-pilar yang dibangun patung empat penulis Injil yang masing-masing memegang kitab. Pada pedimen terdapat ilustrasi yang indah menggambarkan Tuhan Yesus berdoa kepada Allah Bapa saat menjelang penderitaan yang akan dijalani-Nya demi menebus umat manusia dari dosa.

Disamping gereja ini terdapat sebuah taman yang disebut sebagai Taman Getsemani, tempat yang biasa digunakan Tuhan Yesus untuk berdoa dan terletak di kaki Bukit Zaitun. Dimasa kini, taman tersebut tetap terlihat seperti di masa abad ke-12 yang lalu, bahkan sekalipun kota Yerusalem mengalami peperangan, dihancurkan hingga dibangun kembali namum keadaan taman ini tetap seperti pada waktu Yesus melayani di dunia, mungkin dengan pohon-pohon zaitun yang sama pula. Di taman ini terdapat delapan pohon zaitun yang sangat tua dan tidak dapat dipastikan lagi umurnya. Beberapa ahli botani menyatakan bahwa usia dari pohon-pohon ini mungkin sekitar 3000 tahun. Dipercaya, bahwa pohon-pohon zaitun tersebut merupakan 'saksi bisu' saat Yesus merenung, berdoa kepada Bapa, hingga akhirnya ditangkap.

Getsemani memberi pelajaran berharga tentang kekuatan doa ketika berhadapan dengan rekayasa kejahatan yang didasari kebencian. Ketika benci menjadi jalan keluar dari kepribadian yang tidak matang dan kekanak-kanakkan. Ketika benci menjadi pilihan yang dianggap tepat. Jawaban untuk semua itu adalah berdoa dengan sungguh-sungguh seperti yang diperlihatkan Yesus.

Getsemani menjadi kekuatan bagi setiap kita bahwa saat pergumulan mendera, dan kita tidak memiliki kekuatan menghadapinya, berdoalah seperti yang diteladankan Yesus. Doa orang benar tidak pernah sia-sia, tetapi rencana jahat pasti dikalahkan

SELAMAT HARI PASKAH
GPIB "IMMANUEL" DEPOK
Pdt. Alexius Letlora